Pages

Minggu, 27 April 2014

Memang Seharusnya Bukan di Sini

Semacam talk. Begitu sederhana bahkan sangat rapuh, skala mohs nya 1. Semacam sirus. Awan yang tipis tapi tinggi. Semacam angin yang sering diabaikan. Semacam air yang tak seberuntung air di mata air. Semacam saya ini, yang sedang melihat seseorang di hadapan cermin. Melihat dan mengevaluasi tentang dia yang ada di cermin.

Aku hanya sebatas orang biasa. Memiliki harapan, cita-cita, impian sebagaimana orang lain. Tapi satu hal, mungkin aku tak seberuntung mereka yang tak perlu memikirkan hal yang memang seharusnya tak dipikirkan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikir bolak-balik masak-masak olehku agar tidak salah langkah dan tidak merepotkan orang lain. Iya, itulah aku. Ada dalam kesederhanaan yang harus dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menjadi lebih indah.

Aku bukan mereka yang tak perlu susah payah untuk menimbang-nimbang sesuatu dari segi finansial. Malah itu menjadi pertimbanganku dalam setiap hal yang aku lakukan. Susunan skala prioritas betul-betul harus ku perhatikan. Aku tahu keinginanku besar, keinginanku banyak tapi semua itu harus kembali juga pada hal tadi. Karena aku tidak ingin menyusahkan ibuku yang merupakan seorang single parent. Yang berjuang dengan susah payah untuk bisa memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Beruntunglah bagi kalian yang memiliki keadaan jauh lebih beruntung dariku :)

Mungkin teman-temanku bisa dengan cepat dan mudah dalam memutuskan sesuatu. Mereka bisa saja mengikuti setiap acara yang diadakan dari sekolah, mengiyakan dengan cepat apabila ada barang-barang bagus atau ajakan untuk pergi ke pusat-pusat perbelanjaan. Mereka juga bisa denga mudah untuk berada di lembaga-lembaga bimbel hebat dan populer karena kualitasnya yang baik. Tapi, itu butuh rogohan kocek yang tak sedikit. Aku mungkin bisa saja tapi kalau itu kuambil dari mana aku akan membayar sks-sks ku nanti?

Maaf, mungkin seharusnya tidak aku ceritakan hal ini di sini, tapi aku bingung. Bingung harus bercerita pada siapa selain pada Nya juga selain dengan menuliskannya.

Inilah aku yang mungkin tak pernah terlihat sisi lainnya. Yang mungkin terlalu sering untuk tersenyum di atas banyaknya persoalan dalam pikirku. Yang mungkin terlalu pandai menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Maaf untuk kalian yang mungkin tak aku ceritakan lebih dahulu. Maaf bagi kalian yang sempat aku tinggalkan dalam menentukan pilihan. Allah, tolong jaga hati dan pikiranku. Tolong jauhkan aku dari segala bentuk putus asa. Tolong mudahkan aku agar selalu bersyukur atas sehala rezeki yang telah Engkau berikan. KepadaMu lah tempatku bercerita dan menggantungkan harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar