Pages

Selasa, 18 Juni 2013

Menjelang Kenaikan Kelas

Rasanya setahun itu bagaikan sekejap saja. Baru kemarin penjurusan di kelas XI sekarang harus sudah menyandang gelar kelas XII di sekolah. Bukan hanya itu, kelas XII pertanda bahwa itu semakin dekat dengan Ujian Nasional, Ujian Saringan Masuk Perguruan Tinggi dan lain sebagainya. Semakin dekat untuk berubah profesi dari siswa menjadi ‘mahasiswa’. Kalaulah setahun kemarin terasa cepat, apalagi dengan tahun ini, mungkin lebih cepat lagi.

Aku sendiri masih nampak seperti manusia yang tak mengerti apa-apa tentang perkuliahan. Bukan hanya itu, gambaran dari masing-masing jurusan pun masih semu. Rasanya neuron-neuron ini belum terhubung untuk menerjemahkan apa arti ‘perkuliahan’ yang sesungguhnya. Dulu saat aku masih berusia dibawah 15 tahun, aku berkata ‘Aku ingin kuliah di sastra inggris’. Tanpa pikir panjang rasanya aku mantap dengan jawaban itu. Tapi semenjak masuk SMP. Jika ada yang bertanya, ‘mau kuliah di mana nanti?’ aku menjawab, ‘insyaallah farmasi,hehehe’. Farmasi pun semakin mantap di pilihanku seiring dengan masuknya aku ke jenjang SMA. Ya, mungkin aku akan mantapkan langkahku untuk farmasi. Sejak itu aku berusaha untuk mendapat nilai kimia yang terbaik, sengaja membeli banyak buku berkenaan dengan kimia hanya demi modal untuk di farmasi nanti. Tapi ternyata, aku tak begitu berbakat di bidang itu. Aku bukanlah orang yang cekatan dalam hal-hal seperti itu ternyata. Meski sudah berkacamata, masih sering tidak teliti dalam hal ukur-mengukur. Hingga akhirnya, aku pun memilih kebumian untuk menjadi bidang olimpiade ku. Dari belajar mengenai bumi, mulai dari inti bumi hingga lapisan terluarnya jadi terbesit dalam pikiranku, ‘Rasanya jadi ahli geologi tidak masalah. Baiklah farmasi di pilihan pertama lalu geologi setelahnya’. Lalu, suatu hari aku terbayang apa saja yang mungkin aku lakukan jika masuk ke geologi. Kerja lapangan, ospek yang mungkin lebih berat juga teman-teman yang mungkin mayoritas adalah laki-laki. Mengingat diriku adalah seorang akhwat rasanya itu tidak terlalu cocok. Belum lagi dengan kondisi fisikku yang tak begitu mendukung. Baiklah, aku pupuskan harapanku untuk masuk ke geologi. Kalaupun nanti aku harus masuk ke fakultas kebumian, aku lebih memilih meteorologi dibandingkan geologi. Lain lagi ceritanya setelah sharing dengan guru matematika di sekolah, ‘saya mau ke farmasi,Pak, tapi bukan untuk di bidang obat-obatan di apotek, saya ingin bekerja di perusahaan makanan’ lalu guru matematika saya pun menjawab ‘kenapa gak teknik pangan?’ dalam hati saya berkata, ‘iya juga ya’. Akhirnya aku pun memilih farmasi di pilihan pertama lalu teknik pangan di pilihan selanjutnya. Tapi ternyata aku masih labil. Ketika aku merasa bahwa matematika itu menyenangkan aku jadi ingin untuk masuk ke jurusan matematika. Tak peduli orang-orang berkata bahwa prospek kerja nya sempit atau apapun itu. Yang penting aku senang dalam mempelajari hal itu. Urusan bekerja di mana, itu Allah yang menentukan bukan? Lagipula aku adalah seorang akhwat, yang dalam islam tak diwajibkan untuk menafkahi keluarga. Aku ingin jadi ilmuwan muslim selanjutnya.

Hingga saat ini, pilihan ku pun belum bulat. Tapi entah mengapa, aku masih ingin menempatkan farmasi di pilihan pertama. Di pilihan selanjutnya akan kusimpan matematika ataupun fisika. Dua ilmu yang ada di fakultas yang sama, bagiku keduanya sama-sama menyenangkan. Aku tak memilih dari segi perospek kerja atau apapun itu. Tapi aku memilih dari segi kenyamanan dan minatku ada di mana. Karena saat aku mencintai ilmunya, aku akan lebih bahagia menjalaninya, lebih merasa tak ada beban dalam menjalani perkuliahan kelak. Aku ingin melaluinya selalu dengan senyuman, bukan karena paksaan, gengsi atau apapun itu. Yang jelas, aku menuntut ilmu hanya untuk agamaku dan untuk mencari ridho Allah semata. Insyaallah, Allah akan memudahkan jalan hambaNya dalam berbuat kebaikan. Bismillahirrohamnirrohim, permudahlah langkahku dalam meraih cita-citaku itu ya Allah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar