cerita ini hanya fiksi, jika terjadi kesamaan nama, tempat ataupun alur cerita, hanya bagian dari ketidaksengajaan.
Untuk anda yang ku tulis saat semua terasa menghilang, saat kertas terasa tak dapat menembus jarak, di saat semuanya hampir sirna. Aku harap, bukan fatamorgana.
----------------------------------------------------
Hampir satu bulan aku tak bertemu dengan sahabat terbaikku, Rhafif Ikram Saputra. Semenjak kami memasuki peguruan tinggi kami masing-masing, seolah-olah keduanya tersibukkan dengan aktivitasnya satu sama lain, hingga akhirnya berkomunikasi pun jarang bahkan tak pernah, atau lost contact. Padahal aku selalu berusaha untuk mengirimkan beberapa SMS untuknya, namun tak ada satupun yang sempat ia balas.
To: Rhafif
Assalamualaikum, Rhafif.....apa kabar nih? :)
To: Rhafif
Fif, aku ketemu Diki lho temen sebangku kamu waktu SMP, lucu tau dia sekarang tinggi bangeeet... :D
To: Rhafif
Besok ada reuni nih, ikut gak, Fif?
To: Rhafif
Fif, sibuk?pengen nanya nih.........
To: Rhafif
Hari ini tanggal 17 Februari lho, inget gak fif ada apaan coba 6 tahun yang lalu??? :D
To: Rhafif
Fif, masih punya nomer Angga gak? akun FB sama twitternya kok gak lively lagi ya?
dan masih banyak pesan singkat lainnya yang aku kirimkan untuk Rhafif, tapi semuanya nihil, tak ada yang ia balas. Mungin dibaca saja tidak, apa nomor ponselku telah dihapus dari kontaknya Rhafif? Oh tidaaaaaaak!!!!!
Semua cerita tentang Rhafif selalu kutulis dalam diary elektroniku. Tapi masih lebih banyak ceritanya dalam memori alamiku. Semuanya akan selalu aku ingat, mulai dari kita berkenalan hingga kita sekarang sudah berada dalam kawasan yang berbeda. Mungkinkah aku akan bertemu dengan Rhafif kembali?
----------------------------------------------------------------------
Libur semester pun tiba. Tak terasa, sudah 4 semester aku lewati. Tandanya sudah dua tahun aku mancari ilmu Kampus Ganeca 10 ini, bergelut dengan kalkulus dan materi-materi lain yang sudah menjadi menu tetap di setiap harinya. Tinggal menunggu hasil UAS kemarin diumumkan. Situs horor kampus belum juga memunculkan berita tentang IP ku semester ini. Am I still get 4 like last semester? Just wait for that, Mel!! :D
Hari pertama liburanku itu tak terlalu buruk, aku diajak teman satu kost-an untuk pergi ke toko buku. Kami memang belum pulang ke kampung halaman karena masih ada kegiatan unit yang harus segera dituntaskan.
"Mel, gramed yuk. Hunting buku Gagas,hehe" Ucap Gina, gadis dari Jakarta yang sangat senang membaca novel.
"Oke, ayo aja."
Kami pun segera menuju toko buku yang berada tak jauh dari kost-an kami. Toko buku itu terlihat lengang karena memang ini masih pukul 8.30, masih terbilang cukup pagi untuk stay cool di toko buku.
"Mel, gue mau liat-liat di sebelah sana ya, lo mau ikut gue atau mau liat-liat di tempat laen?"
"Hmm, aku mau ke sana aja ya, mau cari buku olim buat adek kelas yang suka konsul."
"okeee, gue di sana ya"
Dari jauh sebelum aku sampai ke rak-rak yang memajang banyak buku olimpiade itu aku melihat seorang gadis yang sedang sibuk mencari buku dijajaran buku olimpiade matematika. Tapi, satu pemandangan aneh, dia seperti Laras. Ya, Laras Kusuma Saputri. Adik pertama Rhafif, yang terakhir kutemui dua tahun yang lalu, saat ini berarti dia menginjak kelas 11 SMA. Aku ragu untuk menyapanya, tapi, baiklah, aku coba.
"Permisi dek"
"Eh iya kak, mau cari buku olim matematika juga ya?silahkan kak, takut saya ngehalangin" Ucapnya sambil tersenyum. Namun setelah ia memandangku dia sedikit terhenyak.
"Hmm, kak Melodi ya?"
"Iya, Laras Kusuma Saputri?"
"hehe, iya kak. Wah gak nyangka ya ketemu di sini, kakak apa kabar?" Tanya Laras padaku sambil meraih tanganku untuk berjabat tangan
"Alhamdulillah baik dek, kamu gimana?"
"Baik juga kak. Kakak kuliah di mana sekarang?"
"fisika ITB dek, hehe"
"Wah,keren tuh. Saya juga pengen masuk sana"
"ayo ayo, ditunggu lho....haha " jawabku sambil tertawa.
Tak cukup sampai bertanya hal-hal biasa itu, aku juga penasaran akan kabar Rhafif. Karena Laras adalah adik kandungnya, pasti Laras tahu di mana Rhafif sekarang.
"Eh iya Ras, Rhafif apa kabarnya sih?sms kagak pernah dibales, email juga sama, ditelpon pas nyambung gak diangkat seringnya malah gak nyambung, FB sama aja"
"Kak Rhafif ganti nomer handphone kak, FB nya juga jarang dibuka, sekalinya dia online pasti jarang jawab sapaan temen-temennya, klo email mungkin dia gak tau kali kalau kakak kirim email. Kakak kirim ke email yang mana?" Jwab Laras panjang lebar
"ris_august24@gmail.com"
"pantesan, email yang itu gak pernah dia buka,kak. Coba kakak kirim ke rhafifikramsaputra@gmail.com insyaAllah bakal sering dibuka"
"dia sekarang di UGM kan? nge-kost dia?"
"iya kak, rencananya liburan ini dia gak akan pulang, banyak agenda di sana katanya, Ya gitu sih, Kak Rhafif mulai berubah sekarang."
"aku boleh minta alamat Rhafif yang di sana gak?"
"Boleh kak, kebetulan kemarin aku disuruh kirim paket sama mama buat kak Rhafif, jadi tau alamatnya, ini kak" Ucap Laras sambil memberikan kertas kecil padaku.
"makasih banget ya,Ras. Eh iya, mau ikut olim?"
"iya nih kak, OSN tahun ini rencananya mau matematika,hehe"
"goodluck ya, semoga sukses nambang deh,haha"
"amin amin....kak, laras ke kasir dulu ya, mama udah nungguin di bawah. Asslamualaikum kak"
"oh, iya iya, waalaikumussalam"
Aku pun melanjutkan niat ku untuk mencari buku olim fisika itu. Tiba-tiba Gina memanggilku dari belakang.
"Mel, siapa tadi?"
"Itu adeknya Rhafif. Inget kan? itu lho temenku yang sering aku ceritain"
"Oh,yang anak UGM itu?"
"iya, akhirnya aku dapet alamatnya,haha."
"Nomor handphone?"
"Yaaaah!! Gue lupa mintaaaaaaaaaa, katanya Rhafif udah ganti nomer, duh, plissss banget ini ya -____-"
"gapapa kali,Mel. Lu kan udah punya alamatnya, santai aja....."
Aku dan Gina segera pergi ke kasir untuk membayar buku yang kami beli itu. Di perjalanan aku masih terbayang bahwa aku akan segera bertemu dengan Rhafif kembali, ya atau minimal aku bisa komunikasi dengan dia lagi. Itu pun sudah cukup rasanya.
------------------------------------------------------------------
Kost-an kesayangan memberiku banyak inspirasi untuk menulis surat pada Rhafif. Pertama aku mengirimkan sebuah email untuknya. Dilanjutkan dengan surat sederhana yang aku tulis tangan dan akan dikirim via pos.
To: rhafifikramsaputra@gmail.com
Subject: From Your Old Friend
Aku harap kau tetap seperti dulu. Ramah dan menjalin komunikasi yang baik dengan semua temanmu.
Jangan pernah berubah meski dunia perkuliahan memaksamu untuk berubah, tanpa masa lalu kau tak akan pernah bisa berada di masa depan.
Let the world changes, but don't let the world changes you :)
Sincerely,
Melodia Hafizha Husain
Setelah surat elektronik itu kutulis, kini giliran surat dengan tulisan tanganku.
Bandung, 28 Juni 2009
Untuk sahabat terbaikku,
Rhafif Ikram Saputra
Puisi sederhana yang harusnya aku sampaikan padamu dua tahun yang lalu :)
Bukan Fatamorgana
Senja Mengakhiri waktu demi waktu
Menutup cakrawala yang mulanya berkuasa
Menyambungkan antara gelap yang akan tiba,
dengan terang yang segera tuntas
Waktu berganti teramat cepat
Bahkan, kadang tampak seperti fatamorgana
Yang awalnya terlihat cukup abadi juga nyata
Padahal hanya suatu hal yang indah fana
Kini, dunia barumu segera hadir
Dunia yang akan memberimu banyak pengetahuan baru
Banyak memberimu pengalaman-pengalaman baru
Dan mengajakmu untuk bertemu orang-orang baru
Usia, jarak, waktu ataupun jenjang sekolah,
bukanlah pemecah persahabatan
Bukan penghambat sebuah percakapan
bukan parasit dalam silaturahim
Aku berharap, kau bukanlah cakrawala yang ditelan senja,
bukan pula fatamorgana yang terlihat sesaat
Meski dunia baru itu tiba,
jangan biarkan mereka menghapus dunia kemarin
NB: check emailmu ya :)
From your ordinary best friend
Melodia Hafizha Husain
Kedua surat dalam versi berbeda itu pun aku kirimkan untuk Rhafif, bismillah :)
-------------------------------------------------------------
Rasanya tak sabar aku menunggu balasan surat atau yaaaaaa apapun itu, yang jelas kabar dari Rhafif. Setiap motor yang melintas di depan kost-an selalu ku lihat, siapa tau Pak Pos yang akan mengirimkan balasan surat dari Rhafif. Bahkan kini, aku mengaktifkan notifications email-ku via handphone siapa tahu Rhafif membalas emailku, ternyata, TIDAK!!!!
"Oke, harus sabar" batinku.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba handphone ku berdering, sebuah MMS dari nomor handphone yang tak ku kenal. Isinya sebuah rekaman, segera aku pun membuka pesan itu.
(Ini adalah teks dari rekaman tersebut)
Really big sorry for you my best friend. I know, that I'm not as good as yesterday, I'm not as me like yesterday, I'm not someone who can keep in touch with everyone. This world has changed me, It blinds me, I'm still can't believe. Why it can be happened? this makes me so disappointed.
But, thanks, you make me awake, you make me can see the world as yesterday but occur now.
REALLY BIG THANK YOU FOR MY REAL BEST FRIEND....
Yours,
Rhafif Ikram Saputra
Aku terkejut mendengarnya, seketika mataku ini tak dapat menahan air yang keluar, semuanya terasa seperti mimpi.....
"Tok..tok..tok" Suara ketukan pintu itu memaksaku untuk menghapus air mata ini dan segera membukakan pintu itu. Ternyata, Pak Pos tiba......
"Permisi, ini ada surat untuk Melodia Hafizha Husain"
"iya pak, saya sendiri. Dari siapa ya pak?"
"Wah, kalau yang ngirimnya saya juga gak tau neng, ini ada alamatnya aja, dari Yogyakarta"
"Apa?Yogyakarta?" aku tersentak,merasa semakin tak percaya. Itu, balasan surat dari Rhafif.
Yogyakarta, Juli 2009
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Bersama suratmu kemarin, insyaAllah aku tak akan menjadi fatamorgana ataupun cakrawala. Aku akan tetap menjadi diriku, Rhafif Ikram Saputra. Sahabatmu yang kemarin sempat menghilang.
maaf atas setiap pesan singkatmu yang jarang ku balas, maaf atas setiap emailmu yang jarang aku lihat, maaf atas segala ke-cuek-anku selama ini. Maaf, aku tau, aku tak sebaik yang kau pikirkan, tapi dengan suratmu itu, aku sadar, bahwa kau memang sahabat terbaikku, yang tak pernah enggan untuk menigngatkanku dalam mengerjakan sesuatu. Terimakasih, Melodia Hafizha Husain :)
Sincerely,
Rhafif Ikram Saputra
Surat itu, penutup ke-menghilangan-nya Rhafif dari pandanganku, sejak itu kami kembali seperti semula, berkomunikasi dan terus berdiskusi meski melalui dunia maya atau layar handphone saja. Semua itu indah, semua itu patut kita syukuri. Terima kasih ya Allah, akhirnya aku dapat bertemu dengan sahabatku kembali :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar