Pages

Rabu, 13 Juni 2012

Sepucuk Cerita tentang Farhin

Cerita ini hanya fiksi, jika terjadi kesamaan nama,cerita ataupun nama tempat, hanya merupakan unsur ketidaksengajaan.




Kehangatan dan kebersamaan yang takkan pernah habis, pudar ataupun sirna. Bukan fatamorgana, bukan khayalan dan bukan lagi mimpi. Tapi, sebuah kenyataan yang telah terjadi dalam dunia kecil dalam sebuah realita.

-----------------------------------------------------------------
Gemercik hujan di luar rumahku itu menjadi latar dalam rangkaian-rangkaian flashback sederhana yang membuatku terhenyak sejenak. Aku ingat pagar putih yang ada di samping rumahku, jalan kecil yang hanya selebar 3 meter dan daerah aliran air yang terkadang tersumbat jika hujan deras turun selama lebih dari 2 jam. Dulu, aku pasti akan terus menunggu di dekat jendela karena ingin menjadi saksi kalau-kalau air bah tiba. Tetapi, hal itu belum pernah terwujud.

Berbeda jika awan tidak menangis. Suara-suara pedagang yang selalu lewat di depan rumah pasti terdengar. Suara-suara kecil dan kayuhan-kayuhan sepeda pasti saling bersahutan. Suasana itu yang aku rindukan. 3 tahun yang lalu, ternyata menjadi saat-saat terakhir aku merasakan semua itu. Kini, hanya bunyi-bunyi serangga yang terdengar yang saling menyapa dengan terpaan angin. Pedagang-pedagang yang harusnya masih dapat kudengar suaranya kini tak lagi dapat kunikmati semangatnya dalam berjuang untuk bertahan hidup. Dari semua itu, masih ada hal yang sangat ku rindukan. Seorang gadis yang tinggal dalam rumah berpagar putih itu. Gadis yang berumur 2 tahun lebih muda dariku, Farhin Damayanti. Kami sudah saling kenal sejak lama, bahkan kami pun seringkali menghabiskan waktu-waktu bersama.
Senja yang selalu menemani kami saat bermain di depan rumah dan lantunan nada-nada Allah di malam ramadhan yang menjadi pengiring kami untuk tarawih. Dia memanglah sahabat dekatku, sahabat terbaikku. Namun ternyata, kenangan yang telah kami susun sejak awal,seketika menjadi kenangan yang sebenarnya. Saat aku dan keluarga berpamitan untuk pergi dari sana, rasanya sangatlah sedih. Meninggalkan sahabat yang telah bersama untuk waktu yang cukup lama. Tentu, itu adalah hal yang menyedihkan bagiku. Di tempat baruku nanti aku tak akan bisa menemukan sosok sepertinya. Farhin, sebenarnya aku tak ingin untuk pergi jauh darimu.
---------------------------------------------------------------
2 tahun berselang, suatu pesan singkat yang mengejutkan bagiku. Pesan dari Mama Farhin.

'Ra, doain farhin ya. Farhin sekarang lagi dirawat di ICU, sejak kemarin belum sadar juga. Doain ya Zahra.'

Saat aku membaca pesan singkat itu, aku terkejut. Banyak hal yang tak bisa aku katakan saat itu. Namun akhirnya aku pun membalas pesan singkat itu dengan perlahan.

To: Mama Farhin
Iya mama farhin. Kata dokter,Farhin sakit apa tante?

From: Mama Farhin
Katanya stroke. Doain ya zahra ya.

To: Mama Farhin
Iya tante, pasti zahra doain. Semoga farhin cepet sembuh ya tante.amin...

Rasanya aku masih terkejut dengan semua itu. Aku masih tak percaya, seorang gadis yang periang, yang selalu tertawa harus terbaring dalam keadaan lemas. Rasanya tak kuasa merasakan berita itu sendirian,lalu aku bercerita pada ibuku.

'Bu, katanya farhin dirawat, stroke bu'
'Kata siapa?'
'Tadi mamanya ngesms adek'
'Oh,yaudah besok ibu jenguk ke sana'
'Aku ikut jangan?'
'Gak usah,kan sekolah. Ibu aja sama kakak.'
'Oh,iya deh'

Aku memang tak bisa menjenguk Farhin. Sahabat macam apa aku ini? Di saat kau sedang terbaring lemas, aku sendiri tak bisa menjengukmu ke sana. Apa ini sahabat yang baik?? Maafkan aku Farhin, aku tak bisa menemuimu, maaf.
-----------------------------------------------------------------
Sepulangnya ibuku dari sana, aku tak sabar menunggu ceritanya tentang Farhin.

'Bu, gimana farhin?'
'Masih belum sadar. Iya kena stroke, awalnya dia demam biasa, tapi gak sembuh-sembuh juga. Pas dibawa ke rumah sakit taunya kena stroke, padahal katanya farhin gak jatuh dulu atau apa dulu gitu. Demam aja. Gak biasanya kan gejala yang kena stroke kayak gitu.'

Ya, apa yang ibuku bilang memang benar. Gejalanya memang tak biasa. Farhin,segeralah buka kedua matamu. Jangan biarkan ibumu,ayahmu,juga keluargamu terus bersedih. Berjuanglah dalam pejaman matamu itu, Farhin!


Beberapa minggu setelah kabar tetang dirawatnya Farhin sampai di telingaku, kabar mengenaskan kembali terdengar. Saudaraku yang masih tinggal di dekat rumah Farhin mengabariku.

'Innalillahi, Farhin meninggal,Ra'
'Innalillahi...seriusan nih?kapan?'
'Tadi siang.iya seriusan kok.'
'Ya allah,terus sekarang Farhin udah di rumahnya?'
'Udah'
'Ya udah,insyaallah zahra ke sana'

Aku langsung memberitahu ibuku tentang itu.

'Bu,Farhin meninggal'
'Kata siapa?'
'Tadi uwa nelpon, katanya Farhin tadi siang meninggal. Ibu mau ke sana besok?'
'Oh gitu. Iya atuh pasti ke sana, paling sama kakak. Adek gak usah ikut ya, kan sekolah'
'Hmmmmmmmmm,iya deh'

Aku lesu mendengar bahwa aku tak dapat ikut melayat Farhin besok, padahal aku ingin bersamanya untuk yang terakhir, ingin mengantarnya ke rumah abadinya.

-----------------------------------------------------------------

Farhin, gadis yang berumur lebih muda 2 tahun dariku harus berpulang lebih dahulu. Meninggalkan banyak orang yang mencintainya dan orang-orang yang ia cintai. Farhin, seseorang yang membuatku betah untuk tinggal di sana dalam waktu yang lama, yang setia menemaniku di kala aku memang tak ada teman untuk berbagi. Farhin, terima kasih atas segala kenangan yang pernah kita lalui berasma, terima kasih atas waktu-waktu singkat berharga yang pernah kita isi bersama, terima kasih Farhin.............
Temuilah aku di surga nanti, aku merindukanmu, Farhin..... ;')


Tidak ada komentar:

Posting Komentar